Review Lebaran

Jujurrr lebaran tahun ini menyenangkan deh. Setelah 7 tahun absen lebaran di Ciledug karena always di Purwokerto dengan Mbah Putri. Sekarang, Mba Putri udah ngga ada dan lebaran dulu di Ciledug. Menyenangkan karena gue ga ngerasa kesepian. Lebaran di Ciledug rame banget terus pas di Purwokerto pun gue cuma 2 hari dan acaranya padet banget. Love it. Soal ditanyain kapan nikah juga engga ada.... doa dari tante dan pakde gue pun "sukses ya Flaa" UDAH GIVE UP kayanya. Heuheu. Eitssss, tapi pressure itu tentu belum hilang sepenuhnya. Pressure tersebut datang dari kedua orang tua aku:) Gue masih kekeuh banget lagi gue cuma mau nikah sama orang yang gue 'sreg'. Gue gamau ngerasain lagi perasaan yang ga setara. Gue gamau ngerasain hal yang sama kayak salah potong rambut di salon, maksain makan makanan yang salah pesen, atau nerima paket yang ternyata beda sama di foto. Setelah 10 tahun single, jatuh bangun patah hati sebegitunya masa gue ended up sama orang yang gak gue '...

Cerita

Menyoalkan persoalan romansa-

Rasanya dulu semuanya gampang untuk ditebak siapa yang jahat siapa yang jadi korban atas jahatnya seseorang dalam ikatan romansa.

Rasanya kita bakal nyalahin orang yang mutusin pasangannya yang lagi sayang-sayangnya tanpa mengetahui alasan orang tersebut memutuskan hubungan romansanya. Lalu mengasihi pasangan yang lagi sayang-sayangnya ini karena diputusi oleh manusia yang ga punya hati.

Rasanya gampang untuk membedakannya. Mudahnya kita mengkotak-kotakkan persoalan.

Namun semakin berjalannnya waktu....
Ternyata memang tidak semudah itu untuk membedakan siapa yang jahat dan siapa yang dijahati.

Karena setiap tindakan sesorang pasti ada alasannya.

Kita nggak tau bahwa ternyata orang yang memutuskan hubungan itu sudah menyimpan rasa bimbangnya sepanjang waktu dan memutuskan hubungan agar tidak ingin terlalu jauh jalannya.

Atau memikirkan bahwa orang yang ia sangat sayangi ini tidak akan bahagia bersamanya dengan kondisi hidupnya yang sakit-sakitan.

Memutuskan demi kebahagiaan orang yang diputusi hubungannya meski menelan sakit yang tidak lebih perih. Siapa yang tau?

Ya, kita semua pernah menjadi orang brengsek di salah satu/salah dua/beberapa cerita orang lain.

Jika menyematkan ikhtisar pengalaman romansa gw, rasanya sedari dulu gue merasa bahwa gua adalah orang yang selalu dijahati.

Diduain,, trs diputusin di saat lagi sayang-sayangnya... di-phpin karena gaboleh pacaran tp 6 bulan kemudian jadian dgn orang lain,,, ditinggal jadian dengan cewe lain setelaah dekat lebih dari 6 bulan..

See? Gue di dalam cerita gue sendiri adalah orang yang menyedihkan.

Kita adalah orang yang baik di cerita kita. Selalu akan menjadi orang baik di versi cerita kita tanpa menyematkan sudut pandang orang yang udah 'jahat'in kita.

Namun tibalah waktunya, gue mulai merasa kalo gue jahat di dalam cerita gue sendiri. Meski pada akhirnya, gue bikin 1000 alasan yang membalikkan perspektif suoaya gue tetap baik di cerita gue sendiri.

Atas kejadian tersebutlah gue sadar bahwa orang yang yang pernah berbuat jahat kepada gue mungkin aja memiliki 1000 alasan atas tindakannya.

Entah demi kebahagiaan dia sendiri atau juga kebahagiaan bersama. Rasanya atas kejadian tersebut (gue yg mulai jahat), semua sakit yang masih tertinggal dari peromansaan sebelumnya, luruh begitu aja. Mengingat tindakan mereka para mantan dan gebetan ini pasti punya alasannya.

Gue merasa gue mulai menjadi orang yang lebih luas memandang sebuah cerita. Ga gampang lagi untuk mengkotak-kotakkan dia salah. Toh, semua orang berhak bahagia atas kehidupannya masing-masing. 

Akhir kata:

Memaafkan orang-orang yang sudah mematahkan hati berkali-kali,
Membawa kita ke dalam diri yang lebih berarti. 

Comments

Popular posts from this blog

Film Thailand Wajib Ditonton Pt.4

Seperempat Abad