17 Januari 2026

Penerbangan dari Lampung ke Jakarta. Gue duduk di samping jendela. Gue gak pernah ngerasain turbulensi seeeeedahsyat dan semengerikan itu. Semua penumpang meringis ketakutan. Begitupun dengan gue. Gue sendiri terpisah dari temen-temen gue yang dapet di barisan depan. Kepala gue full ngebayangin kalo ini tuh bukan roller coaster, bukan gue lagi di bus atau di mobil. Gue lagi ada di atas ketinggian. Di atas langit.  Gue bayangin berita yang akan muncul. Ada nama gue, temen-temen gue, direktur gue. Reaksi nyokap pas tau berita tersebut. Rasa bersalah karena gue belum sempet ngabarin dan minta doa nyokap kalo gue mau take off.  Sebelum berangkat, gue liat di mural bandara Radin Inten "lebih baik tidak terbang daripada tidak sampai tujuan". Gue gabisa sharing ketakutan gue. Gue cuma bisa istighfar. Gue gabisa pegangan sama orang yang gue sayang bahkan yang gue kenal. KALUT. Gue cuma sendiri ngadepin ketakutan dan turbulensi yang luar biasa. Gue masih banyak dosa. Gue ga siap. Ya A...

Turunan atau Kutukan?

Siapa yang tidak menyadari jika sistem perkebunan yang dahulu dipelopori oleh kolonialisme, kini masih membayangi Negeri ini? Mengikuti langkah demi langkah perubahan yang dilakukan oleh bumi pertiwi. Tidak peduli petani meronta-ronta hingga mati yang terpenting bapak dan ibu di atas sudah kepalang happy.
Tidak sadarkah atau pura-pura tuli?

Pasca kemerdekaan, berlanjutnya sistem perkebunan di Indonesia 'katanya' adalah sistem turunan. Masyarakat Indonesia masih merangkak belum bisa jalan, tak kuat menahan beban, masih rentan dan memilih melanjutkan sistem jajahan. Sistem perkebunan tidak benar-benar hilang melainkan hanya berubah bentuk, jajahan tersembunyi kapitalisme, turunan dari kolonialisme seperti saat ini beneran turunan atau kutukan?

Sebagai mahasiswa dari Kampus Pertanian terbaik di Indonesia yang tugas demi tugasnya memiliki tumpukan jurnal-jurnal pertanian untuk dianalisis dikaji dan dipahami, amat bersyukur dapat berkesempatan melihat jendela pertanian dengan sisi yang benar. Dengan sisi bukan meremehkan, melainkan miris akan pahlawan pangan tetapi dikategorikan sebagai rakyat marjinal. Miris bahwa mereka sang pahlawan pangan tetapi statusnya amat melekat pada sebuah kemiskinan.
Rasa ingin merubah tentu ada, tetapi saat ini bisa apa? Saya yakin untuk saat ini saya harus belajar dengan baik mempelajari realita-realita petani, menjadi sosok masyarakat yang peduli dan kritis untuk bekal saat kelak menjadi 'orang' dapat selalu berada di sisi membela petani.

Sistem perkebunan Kutukan atau Turunan? Dua-duanya tak baik, saya yakin itu. Semoga saja beberapa tahun mendatang pilihan ini akan bertambah sehingga muncul sebuah harapan. Menjadi "Kutukan, Turunan, atau Pelajaran?".
Pelajaran sehingga seluruh Indonesia akan tau nantinya bahwa sistem perkebunan yang menggerus petani hanya sebuah pelajaran sejarah masa lalu yang hanya untuk dipelajari tak perlu disentuh dan dicicpi kembali.
Petani sang pahlawan pangan akan berjaya nantinya di bumi pertiwi, bumi agraris.

Flamora
I34160148

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Attachment Style

Cocokologi