Review Lebaran

Jujurrr lebaran tahun ini menyenangkan deh. Setelah 7 tahun absen lebaran di Ciledug karena always di Purwokerto dengan Mbah Putri. Sekarang, Mba Putri udah ngga ada dan lebaran dulu di Ciledug. Menyenangkan karena gue ga ngerasa kesepian. Lebaran di Ciledug rame banget terus pas di Purwokerto pun gue cuma 2 hari dan acaranya padet banget. Love it. Soal ditanyain kapan nikah juga engga ada.... doa dari tante dan pakde gue pun "sukses ya Flaa" UDAH GIVE UP kayanya. Heuheu. Eitssss, tapi pressure itu tentu belum hilang sepenuhnya. Pressure tersebut datang dari kedua orang tua aku:) Gue masih kekeuh banget lagi gue cuma mau nikah sama orang yang gue 'sreg'. Gue gamau ngerasain lagi perasaan yang ga setara. Gue gamau ngerasain hal yang sama kayak salah potong rambut di salon, maksain makan makanan yang salah pesen, atau nerima paket yang ternyata beda sama di foto. Setelah 10 tahun single, jatuh bangun patah hati sebegitunya masa gue ended up sama orang yang gak gue '...

Turunan atau Kutukan?

Siapa yang tidak menyadari jika sistem perkebunan yang dahulu dipelopori oleh kolonialisme, kini masih membayangi Negeri ini? Mengikuti langkah demi langkah perubahan yang dilakukan oleh bumi pertiwi. Tidak peduli petani meronta-ronta hingga mati yang terpenting bapak dan ibu di atas sudah kepalang happy.
Tidak sadarkah atau pura-pura tuli?

Pasca kemerdekaan, berlanjutnya sistem perkebunan di Indonesia 'katanya' adalah sistem turunan. Masyarakat Indonesia masih merangkak belum bisa jalan, tak kuat menahan beban, masih rentan dan memilih melanjutkan sistem jajahan. Sistem perkebunan tidak benar-benar hilang melainkan hanya berubah bentuk, jajahan tersembunyi kapitalisme, turunan dari kolonialisme seperti saat ini beneran turunan atau kutukan?

Sebagai mahasiswa dari Kampus Pertanian terbaik di Indonesia yang tugas demi tugasnya memiliki tumpukan jurnal-jurnal pertanian untuk dianalisis dikaji dan dipahami, amat bersyukur dapat berkesempatan melihat jendela pertanian dengan sisi yang benar. Dengan sisi bukan meremehkan, melainkan miris akan pahlawan pangan tetapi dikategorikan sebagai rakyat marjinal. Miris bahwa mereka sang pahlawan pangan tetapi statusnya amat melekat pada sebuah kemiskinan.
Rasa ingin merubah tentu ada, tetapi saat ini bisa apa? Saya yakin untuk saat ini saya harus belajar dengan baik mempelajari realita-realita petani, menjadi sosok masyarakat yang peduli dan kritis untuk bekal saat kelak menjadi 'orang' dapat selalu berada di sisi membela petani.

Sistem perkebunan Kutukan atau Turunan? Dua-duanya tak baik, saya yakin itu. Semoga saja beberapa tahun mendatang pilihan ini akan bertambah sehingga muncul sebuah harapan. Menjadi "Kutukan, Turunan, atau Pelajaran?".
Pelajaran sehingga seluruh Indonesia akan tau nantinya bahwa sistem perkebunan yang menggerus petani hanya sebuah pelajaran sejarah masa lalu yang hanya untuk dipelajari tak perlu disentuh dan dicicpi kembali.
Petani sang pahlawan pangan akan berjaya nantinya di bumi pertiwi, bumi agraris.

Flamora
I34160148

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Film Thailand Wajib Ditonton Pt.4

Seperempat Abad