Familiarity Trap

Gue kira, nyari pasangan yang emang familiar itu wajar banget. Ternyata, itu jebakan. Sebutannya familiarity trap . -- Dulu pun, gue ga engeuh kalo gue punya preferensi dalam mencari pasangan. Tapi temen gue menyadarkan, ternyata gue punya tipe yang cukup similiar. Gue kira ini wajar. Tapi makin ke sini, gue menemukan bukan cuma tipe fisik. Tapi rasa familiar.  Misal, gimana deketinnya, playlistnya, footbal club kesukaannya, band favorit, latar belakang keluarga.... TERNYATA INI TUH BISA JADI JEBAKAN -- Gue nemu saat scroll reels...  "Saat lo nemuin orang padahal belum kenal tapi ngerasa udah ada chemistry, you better run because your body try to tell you bahwa itu cocok dengan LUKA TRAUMA" That ((BELUM KENAL)),,, Deymnnn...... KENA BANGET. JADI, SELAMA INI GA BAGUS YA? Gue pikir kayak yaudah emang kita pasti lebih nyaman sama sesuatu yang familiar sama kita. Tapi justru badan kita seakan akan ngenalin virus yang sama dan willing to untuk ngadepin hal yang sama karena udah ...

Kalau Bukan Mereka, Semua Tidak Akan Lebih Mudah (1)

Syukurnya tak pernah berhenti.
Berawal dari kecemasan antara dua pilihan:
Akselerasi atau PKM.

Awalnya tidak pernah diniatkan untuk mengikuti program akselerasi. IP yang naik turun setiap semesternya membuatku urung untuk berekspektasi banyak pada program ini. Bahkan pada saat itu IPK sudah di ambang bawah persyaratan. Namun atas kuasa-Nya aku diberikan kesempatan untuk menjalani program akselerasi.

Mengingat keinginan orang tua untuk lulus cepat agar 'bergantian' dengan adik-adik membuatku makin mantap megambil program akselerasi. Ditambah kebetulan-kebetulan yang Allah tampakkan, salah satunya adalah IPK yang secara tiba-tiba naik 0.01 sehinga aku masuk persyaratan program akselerasi  "Allah ngasih kamu kesempatan, masa kamu tolak".

Aku menimbang baik kesempatan sebagai berkah atau ujian, aku harus menjalaninya bukan?

Jadi, maaf bagi kalian yang memikirkan bahwa program ini diambil unuk gaya-gayaan semata atau kata ibu-ibu dosen di twitter yaitu biar nikah cepat. Bagiku, alasannya tidak sereceh itu.

UKT tidak gratis teman-teman:")

Kemudian mempertimbangkan juga bahwa aku ditolak menjadi asisten praktikum pada sebuah mata kuliah, tidak lagi berorganisasi, serta PKM yang saat itu masih dalam proses pengajuan (belum pengumuman), pokonya tidak ada kegiatan yang produktif. Kasarnya:
"Gila gabut lah gue entar, ambil ajalah biar rada sibuk"
Kala itu 29 sks aku ambil untuk mengisi hari-hariku di semester 6.

Berjalan beberapa minggu dan beberapa bulan... Daftar PKM yang didanai diumumkan. PKM-M yang aku ikuti muncul menjadi salah satu di antara 5 PKM-M lainnya.

Antara senang dan takut menghantui pikiran: Program akslerasi dengan 29 sks ditambah PKM..... bisa gak ya?

Nyatanya ,aku bersyukur.
Aku mendapatkan dosen pembimbing yang baik hati dan tidak banyak memberikan tekanan, Studi Pustaka di semester 6 yang aku jalankan untuk program akselrasi terasa mudah dijalani.

PKM M yang aku jalankan terisi dengan teman-teman yang saling support dan memahami keadaan. Meski tangisan tak luput di dalamnya. Teringat sepulang turun lapang dari Sukabumi dengan medan perjalanan yang cukup melelahkan,  sekitar pukul 7 di kamar kosan: terdapat deadline revisi buku panduan yang dikumpulkan pukul 9. Menangis karena harapan ingin istirahat pada malam itu telah sirna.

Kalo udah ketemu mereka, lelahnya luntur

Sambil terisak ku kerjakan mengingat resiko yang harus dipertanggungjawabkan serta satu-satunya harapan untuk berkompetisi akademik di tingkat akhir.
Atau ditambah dengan:

"Bali gratis Fla, Bali gratis"

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Film Thailand Wajib Ditonton Pt.4

Seperempat Abad